Kubenci malam ini
Rintihan hujan temaniku yang sendiri
Bersama alunan lama melodi hati
Kubenci sendiri!
Temanku hanya hujan? Lagu sedih? Kegelapan?
Aku sendiri
Ku hanya bisa mengeluh
Seperti hilang inti diri ini
Lelah ku ucap berkali-kali
Bayangmu ntah mengapa terus menemani setiap ku sendiri
Lucu, kumasih menatap bangku kosong yang biasa terisi aroma manismu
Kini kita duduk menghadap dinding yang berbeda
Saling bergeser bagai kutub yang menolak
Tempat yang dulu kita isi bagai merpati
Kini terasa perih makin hari
Sembari memanggil-manggil elegi itu
Dibawah langit yang iri pada cerahmu
Dikala kita berlantun sambil berlari
Mengejar mimpi tak mudah saling melengkapi
Sungguh, ini semua perih tuk diingat
Tapi terkenang dengan indahnya
Sekalipun dengan pagi itu
Dihari ingin kutemui seorang putri 'tuk jujur bahwa ku tak bisa sendiri
Tapi patah layu bunga harapan saat itu juga didepan mata ia kembali padanya
Kaulah alasan ku terus berkata mengapa
Meronta meriang dalam hamparan kehampaan
Berharap kau berbalik memberi genggaman
Membuka lengan tuk mendekap dalam pelukan
Tak bisakah kita tinggalkan hiruk pikuk ini untuk katakan yang saling kita mau
Yang saling kita rasa
Bukan tuk saling kembali
Tapi tuk saling dewasa dengan saling mengetahui
Kini semua hanya menjadi cemas
Bagai plastik yang terhempas takut tenggelam
Yang tak lelah terus bergulir tanpa arah
Padahal dia tau ada kala akan berlabuh ditempat yang indah
Walau terus terbayang kengerian tenggelam dalam kegelapan asmara.
Hadirmu dikala hujan wahai, Nona.
No comments:
Post a Comment