Sunday, February 19, 2017

Gelap

1 purnama kulewati
berdiri setelahku tersungkur di parit biru
setelah tak tahu dimana ku harus berlindung
tak tahu bagaimana cara keluar
indah memang diujung sana
tapi lama untukku menyebrang
bahkan tersungkur hampir tergeletak

tanpa siapa kususuri jalur ini
untungnya bukan untuk yang pertama kali
berada dalam gelap penuh duka

kembali kucari terangku
berharap bertemu samudera di ujung sana
agar angin membawa semua luka

ku tak mau lagi
tak mau lagi dibodohi
tak lagi ku berteman dengan luka
luka yang melemahkan jiwa dan raga

wahai langit
biarkan bintangmu menemani tiap malamku
jangan lagi kau sembunyikan
cukup terangi
agar tak beku hati ini.

Dasar Kau, Bumi

Itu belalang?
Atau bukan?
Ah tak penting
Mereka bahagia diatas kerumunan manusia
Lihat awan itu
Cumulus? 
Ah tak juga penting
Mereka berdansa menatap bumi ini
Tunggu
Mereka senang menatap bumi?
Atau senang menatap langit?
Lihat pohon itu
Layu di tengah manusia
Dimana kesadaran melindunginya?
Sampah yang berserakan ini
Kucing liar yang mengais makanan
Bangunan setengah jadi yang perlu ditanyakan mengapa
Apa karena manusia yang rakus
Atau terhambat karena kekurangan sesajen
Sudah hilang kesadaran manusia
Panggilan tuhan pun tidak di gubris
Gila sudah
Membuat secercah keengganan
Kukira awan dan belalang menari melihat bumi
Namun semakin jelas

Ternyata mereka menari melihat langit

Thursday, February 16, 2017

Catatan Bodoh

16 Februari 2017
Malam kelabu
My cave

Sudahlah!
Cukup pecah kepala ini
Jangan terus muncul ketika sudah kulupakanmu
Kenapa singkat tapi sangat dalam?
Mataku sampai enggan melirik
Karena perih yang kau tanam
Puas?
Menyalahkan tapi penuh kebohongan
Menutupi kesalahan dengan meyalahkan
Pergi!
Pahit sudah
Lebih pahit lagi dipaksa melihatmu setiap hari
Mendengar tawamu
Melihat rambutmu
Mengagumi tubuhmu
Bisa gila aku jika tercium aromamu
Pahit
Tapi kenangan kita entah mengapa berbeda
Singkat
Penuh komitmen
Sudahlah...
Tak ingin hati ini membenci
Tapi apa daya
Kertas yang di robek tak bisa tak menjerit

Wednesday, February 15, 2017

Hujan

Rabu, 15 Februari 2017
1 pagi
Cave

Hujan ini
Yang turun sore kemarin
Tanah pun tak rela ia pergi
Tak ingin hujan cepat kembali
Karena ia tau rasanya sendiri
Retak
Keras
Dihina
Orang bilang tanah sumber kehidupan
Tapi air lah hutang budinya
Kau cium aroma itu?
Ketika tanah akan berpisah dengan hujan
Aroma perpisahan
Sebelum ketemu lagi esok
Atau berpisah untuk waktu yang panjang
Bahkan tanah pun setia menunggu kemarau usai
Tapi kau?
Tak lebih lama dari bayi yang baru bisa tertawa.

Bawa Aku Kembali

Kamis, 9 Februari 2017
Siang menjelang sore.
Gedung putih yang pengap.

Tirai abu menyatu dengan awan
Tidak, tidak sekarang
Langit bilang nanti dulu
Tapi...
Pikiran ini sudah mulai tak jelas!
Lelah, pahit, manis, cinta
Ranting pun tak se-labil itu
Langit memang sedang tak menghibur
Tapi gundukan hijau itu,
membuatku berpaling
Bangunan tinggi menjulang
Membuat iri untuk kesana
Terlihat berkabut
Samar
Tapi tetap enak untuk dilihat
Batinku bilang tidak
Tapi ketika kutatap lagi
Terlihat berkabut pula batin ini
Seperti gundukan hijau itu
Berkabut
Samar
Terlihat ada yang menjulang
......
Bawa aku kesana lagi.