Saturday, June 5, 2021

Prolog II

Sebelum ini, beberapa kali aku pernah mencoba menulis tentang dia.

Namun waktu itu aku tak sanggup menuliskan sebaris kalimat pun. Jika saja baris pertamanya bisa kutulis, aku yakin bisa menceritakan semuanya hingga ke detil terkecil.

Tapi baris pertama itu tidak sanggup tertulis. Semuanya teramat-sangat jelas sampai-sampai aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Ibarat membuat presentasi, terlalu banyak detail menjadikannya membosankan dan tidak bermakna.

Setelah ini, sepertinya kamu yang akan kutulis sampai aku benar-benar sudah mampu membuat cerita lain yang lebih indah.

Potret

Seiring berjalannya waktu kupikir akan mudah melupakan sosoknya

Sosok yang menemaniku mencari baju kerja yang akhirnya membuat dia meleleh sendiri melihatnya

Lucu. Sejak saat itu baju itu hanya kupakai saat bertemu dengannya

Heran. Tak sulit bagiku mendapatkan potret wajahmu dibenakku

Pasti selalu terbayang wajahmu dari depan

Mungkin karena aku yang selalu marah jika kamu tidak memberikan matamu untuk kupandangi terus

Teringat juga caramu memalingkan wajahmu dengan gestur malu dan membiarkanku melihat kepala belakangmu

Sangat jelas nada suaramu berkata benci akan mataku


Lucunya. Indah sekali momen bersamamu. 

Kemarin kulihat ada pertanyaan, “Jika bisa memutar waktu, ingin bertemu seseorang dari awal atau tidak ingin bertemu selamanya?”

Coba jawab!

Jawabanku mungkin sama denganmu. Tak ada kata, hanya senyum simpul sambil membayangkan senyum manismu.