Muda, merah membara
Mendidih tak berbuih
Bertanduk emosi dini
Tapi tumbang, didera angin cinta
Dihujam pisau asmara
Kejam!
Dipaksa tetap hidup, setelah membunuh tanpa dosa
Bersama angin, kau terbang bersama setengah jiwa
Ingin ku kejar,
Tapi, ku diam
Bukan tak bisa berlari, tapi aku penat
Harus kembali mengejar tak tau kapan selesai
Lebih baik ku sendiri menata sendiri hati ini
Kenapa dia berubah
Ku ingin tahu mengapa
Tapi jelas ketika kau merayu dengannya di depan mata
Dengan dia yang kau caci dahulu kala
Yang dulu kau kulindungi dari dentuman eleginya
Terlalu dini hati ini untuk terlelap
Temaram dalam gelap dan terang
Karena sakit yang tak karuan
Ingin ku mencoba
Kembali berdiri menancapkan akar
Melawan gelap dan mulai mencari bintang
Namun setelah ku fikir lagi
Ku hanya akan berdiri tegap, walau benalu yang merajam
Kan kujadikannya teman pesakitan untuk jadi pelajaran
Hingga mekar kembali bunga harapan
No comments:
Post a Comment