Sunday, March 19, 2017

Meroket?

hari ini malam terlihat lebih cerah
sepi terasa lebih ramai
raut penuh dengan simpulan
sang ksatria telah kembali nona.
entah sudah berapa pagi kutunggu hari ini 
untuk kembali luluh dan kembali mengagumi dari hati
kembali bisa tersenyum hingga lelah karena melihat foto kemarin
bisa mengagumi dalam diam dan menyaksikannya tersenyum tanpa canggung
dan yang kusukuri adalah
ini lebih dari ekspektasi 
syukurnya, semua ini terjadi seiring pudarnya bayangmu

Thursday, March 16, 2017

Berbagi

butiran air berdansa diatas daun
pasca hujan yang basahkan jalanan
pepohonan menari kedinginan ditiup angin pagi
dihangatkan kerak agar tak demam juga meriang
burung-burung berkicau mulai kelaparan
terbang tak tentu mencari kepala cacing
dimakannya satu dan dibawanya pulang satu
karena mereka semua tahu, keindahan itu patut dibagi-bagi

Tuesday, March 14, 2017

Terasa Beda

Sayangmu datang darimana, katamu
Pertanyaan yang seharusnya tak perlu dijawab
Malu dengan pohon yang tak bertanya mengapa burung hinggap
Tapi jika kau tanya
Karna kau beri sekardus imaji
Lagu, buku, cinta, tulus, jujur
Apa lagi yang perlu di ragu?

Tangkai dan Bunga

Kupejamkan mata
Kudengar hembusan semilir
Kututup telinga
Kupandang bunga yang dihinggapi lebah
Bunga yang indah dengan tangkainya
Lalu hilang saat jauh tak terjaga hingga terpetik
Namun,
Tetap ramai dihinggapi lebah berbeda sehingga memaksa mengeluarkan nektar
Begitulah naluri lebah
Lain dengan bunga picisan
Entah malu kepada tangkai
Atau memang tak pandai menjaga hati dan juga janji

Tangkai yang layu
Terus merunduk
Berharap ada yang hinggap tuk temani walau hanya tangkai yang layu

Patah

Ulurkan tangan ke atas awan
Sisipkan angan diantara benda putih bergumpal
Kepakan burung kan iringimu
Menyaksikan usahamu bediri dari keambrukan dini
Setelah patah dan menunggu tunas yang baru
Sebelum kau temui menyerah
Palingkan tubuhmu dan lompat ke awan.

Cinta

Cinta adalah
Saling tersenyum dan tertawa walau tak bicara

Cinta adalah
Mendengar dan didengarkan tanpa diminta

Cinta adalah
Saling memaafkan dan mencinta setelah bertengkar walau sehebat apa

Cinta adalah
Takut ia pergi walau sehari

Cinta adalah
Ketika mendengar lagu yang sama setelah melambaikan tangan

Cinta adalah
Menunggu penuh rindu

Cinta adalah
2 merpati yang saling mematuk sehabis pulang menyusuri langit

Cinta adalah
Saling bertanya mau makan apa hingga akhir hayat

Cinta adalah
Tentang tertawa lepas melihat masa lalu kelam bersama

Cinta adalah
Menerima

Cinta adalah
Tidak pisah karena berubah

Cinta sempurna adalah
Ku harap itu kau, Nona.

Distorsi Mimpi

Sungguh
Ku tak bisa tidur malam ini
Dalam gelap dan sunyi terasa meriah di dada dan kepala
Kau lagi?!?!
Kembali tumpah pertempuran hati
Antara rindu dan juga benci

Sungguh
Baru ku sadari
Selama ini hanya benci dan amarah yang membuatku begini
Bukan rindu

Aku marah!
Aku marah pada diriku sendiri
Marah sampai menangis
Menangis dalam kenapa
Merintih terus tak terima
Aku lelah berpura-pura!

("Ini hati bukan kulit sapi
Yang bisa kau jahit menjadi barang pajangan setelah kau sobek dan kau tusuk oleh jarum tanpa benang")

Nona, doakanlah
Malam ini saksinya
Ku mau rindu tuk merindu
Kan ku coba tuk menatap kembali simpul putri penuh tanda tanya


Monday, March 13, 2017

Rindu

Dalam keramaian senja
kuterbayang bintangmu
Bintangmu yang teralun dari lagu
tentang langit dan bintang yang sedang merayu

Rayuan rindu ini kerap kali hinggap
Tak kenal waktu, tak kenal tempat
Rindu yang teramat saru
Karena ku tak percaya ini untukmu
Tapi sering sekali mengganggu

Nona manis pujaan alam
Tetaplah merona dengan gembira
Bumi tak perlu tahu mengapa langit jauh
Yang dibutuhnya hanya langit biru yang indah tuk dipandang

Tuesday, March 7, 2017

Dikala Hujan

Kubenci malam ini
Rintihan hujan temaniku yang sendiri
Bersama alunan lama melodi hati
Kubenci sendiri!
Temanku hanya hujan? Lagu sedih? Kegelapan?
Aku sendiri
Ku hanya bisa mengeluh
Seperti hilang inti diri ini
Lelah ku ucap berkali-kali
Bayangmu ntah mengapa terus menemani setiap ku sendiri
Lucu, kumasih menatap bangku kosong yang biasa terisi aroma manismu
Kini kita duduk menghadap dinding yang berbeda
Saling bergeser bagai kutub yang menolak
Tempat yang dulu kita isi bagai merpati
Kini terasa perih makin hari
Sembari memanggil-manggil elegi itu
Dibawah langit yang iri pada cerahmu
Dikala kita berlantun sambil berlari
Mengejar mimpi tak mudah saling melengkapi

Sungguh, ini semua perih tuk diingat
Tapi terkenang dengan indahnya
Sekalipun dengan pagi itu
Dihari ingin kutemui seorang putri 'tuk jujur bahwa ku tak bisa sendiri
Tapi patah layu bunga harapan saat itu juga didepan mata ia kembali padanya

Kaulah alasan ku terus berkata mengapa
Meronta meriang dalam hamparan kehampaan
Berharap kau berbalik memberi genggaman
Membuka lengan tuk mendekap dalam pelukan
Tak bisakah kita tinggalkan hiruk pikuk ini untuk katakan yang saling kita mau
Yang saling kita rasa
Bukan tuk saling kembali
Tapi tuk saling dewasa dengan saling mengetahui
Kini semua hanya menjadi cemas
Bagai plastik yang terhempas takut tenggelam
Yang tak lelah terus bergulir tanpa arah
Padahal dia tau ada kala akan berlabuh ditempat yang indah
Walau terus terbayang kengerian tenggelam dalam kegelapan asmara.

Hadirmu dikala hujan wahai, Nona.


Monday, March 6, 2017

Redupan Sore

liar pikirku gelap ini
kenapa kembali terfikir setelah lama mangkir
sirna puraku krna karibmu
dulu kusuruh hati simpan rindu
kini terungkap terbawa nafas syahdu

lama ku bisikkan pada bulan
tentang seorang putri yang apa ada hati
dalam kesindirian menikmati sepi
yang tak mesti kuragu lagi
tapi malam ini ntah menepi

walau tidakku berdalih
terhampar luas memungkin-mungkinkan mu punya hati
setidaknya tak bagai koala yang hanya haus sendiri
tapi ku harap bagai kelinci yang bisa sakit karna sakit hati

semoga ini hanya akibat sering tertidur.
ku lelah memikirkanmu lagi wahai, Nona.

Saturday, March 4, 2017

Goresan Krincing

malam gelap tanpa sedu penuh syahdu
alunan goresan aspal terngiang dihulu mimpiku
terbayang apakah kelak akan menggerutu
dengan kelakuan sang merah bara bertanduk kelu

tumpukkan hujan hilir berganti
jiwa dan raga kokoh tak ada kembali
julur awan hentikan naluri
untuk berputar ku pantang kembali

Friday, March 3, 2017

Bow

A man hiding in the wood
Behind a tree above the root
Hide is all he can do
he do not even know if it is good

he run, tryin' to escape from the darkness
so far until he waste his time
it is too late to realize
if he run to the wrong way

Thursday, March 2, 2017

Semu?

Dalam kerumunan penuh logika
Kuselami lautan mimpi
Aku lelah dengan hiruk pikuk ini
Ini gaduh!!
Tapi, ku benci sepi

Bagaimana ramai ini terasa semu?
Awan yang semu saja terasa ramai
Kumpulan intelek ini justru penuh ego
Apa guna pintar tanpa teman, sobat
Tapi kupetik ilmunya
Mana teman, cinta, dan sahabat

Berdiri, kawan.

Muda, merah membara
Mendidih tak berbuih
Bertanduk emosi dini
Tapi tumbang, didera angin cinta
Dihujam pisau asmara

Kejam!
Dipaksa tetap hidup, setelah membunuh tanpa dosa
Bersama angin, kau terbang bersama setengah jiwa

Ingin ku kejar,
Tapi, ku diam
Bukan tak bisa berlari, tapi aku penat
Harus kembali mengejar tak tau kapan selesai
Lebih baik ku sendiri menata sendiri hati ini

Kenapa dia berubah
Ku ingin tahu mengapa
Tapi jelas ketika kau merayu dengannya di depan mata
Dengan dia yang kau caci dahulu kala
Yang dulu kau kulindungi dari dentuman eleginya

Terlalu dini hati ini untuk terlelap
Temaram dalam gelap dan terang
Karena sakit yang tak karuan

Ingin ku mencoba
Kembali berdiri menancapkan akar
Melawan gelap dan mulai mencari bintang
Namun setelah ku fikir lagi
Ku hanya akan berdiri tegap, walau benalu yang merajam
Kan kujadikannya teman pesakitan untuk jadi pelajaran
Hingga mekar kembali bunga harapan

--

Jika waktu itu kembali
Ku tak ingin ini semua terjadi
Perasaan ini
Canggung yang tak bermuara

Runtuhan jiwa yang tak bisa ku susun lagi
Dinginnya hati yang tak bisa ku lelehkan
Tak sebanding denganmu
Yang bahagia mengejar bayangan di hutan sana

Kupandangi jalan buntu
Pekat ku pandangi
Mencari setitik belasmu
Tapi tak ada
Lama kusadari
Belasmu bukan untukku

Sunday, February 19, 2017

Gelap

1 purnama kulewati
berdiri setelahku tersungkur di parit biru
setelah tak tahu dimana ku harus berlindung
tak tahu bagaimana cara keluar
indah memang diujung sana
tapi lama untukku menyebrang
bahkan tersungkur hampir tergeletak

tanpa siapa kususuri jalur ini
untungnya bukan untuk yang pertama kali
berada dalam gelap penuh duka

kembali kucari terangku
berharap bertemu samudera di ujung sana
agar angin membawa semua luka

ku tak mau lagi
tak mau lagi dibodohi
tak lagi ku berteman dengan luka
luka yang melemahkan jiwa dan raga

wahai langit
biarkan bintangmu menemani tiap malamku
jangan lagi kau sembunyikan
cukup terangi
agar tak beku hati ini.

Dasar Kau, Bumi

Itu belalang?
Atau bukan?
Ah tak penting
Mereka bahagia diatas kerumunan manusia
Lihat awan itu
Cumulus? 
Ah tak juga penting
Mereka berdansa menatap bumi ini
Tunggu
Mereka senang menatap bumi?
Atau senang menatap langit?
Lihat pohon itu
Layu di tengah manusia
Dimana kesadaran melindunginya?
Sampah yang berserakan ini
Kucing liar yang mengais makanan
Bangunan setengah jadi yang perlu ditanyakan mengapa
Apa karena manusia yang rakus
Atau terhambat karena kekurangan sesajen
Sudah hilang kesadaran manusia
Panggilan tuhan pun tidak di gubris
Gila sudah
Membuat secercah keengganan
Kukira awan dan belalang menari melihat bumi
Namun semakin jelas

Ternyata mereka menari melihat langit

Thursday, February 16, 2017

Catatan Bodoh

16 Februari 2017
Malam kelabu
My cave

Sudahlah!
Cukup pecah kepala ini
Jangan terus muncul ketika sudah kulupakanmu
Kenapa singkat tapi sangat dalam?
Mataku sampai enggan melirik
Karena perih yang kau tanam
Puas?
Menyalahkan tapi penuh kebohongan
Menutupi kesalahan dengan meyalahkan
Pergi!
Pahit sudah
Lebih pahit lagi dipaksa melihatmu setiap hari
Mendengar tawamu
Melihat rambutmu
Mengagumi tubuhmu
Bisa gila aku jika tercium aromamu
Pahit
Tapi kenangan kita entah mengapa berbeda
Singkat
Penuh komitmen
Sudahlah...
Tak ingin hati ini membenci
Tapi apa daya
Kertas yang di robek tak bisa tak menjerit

Wednesday, February 15, 2017

Hujan

Rabu, 15 Februari 2017
1 pagi
Cave

Hujan ini
Yang turun sore kemarin
Tanah pun tak rela ia pergi
Tak ingin hujan cepat kembali
Karena ia tau rasanya sendiri
Retak
Keras
Dihina
Orang bilang tanah sumber kehidupan
Tapi air lah hutang budinya
Kau cium aroma itu?
Ketika tanah akan berpisah dengan hujan
Aroma perpisahan
Sebelum ketemu lagi esok
Atau berpisah untuk waktu yang panjang
Bahkan tanah pun setia menunggu kemarau usai
Tapi kau?
Tak lebih lama dari bayi yang baru bisa tertawa.

Bawa Aku Kembali

Kamis, 9 Februari 2017
Siang menjelang sore.
Gedung putih yang pengap.

Tirai abu menyatu dengan awan
Tidak, tidak sekarang
Langit bilang nanti dulu
Tapi...
Pikiran ini sudah mulai tak jelas!
Lelah, pahit, manis, cinta
Ranting pun tak se-labil itu
Langit memang sedang tak menghibur
Tapi gundukan hijau itu,
membuatku berpaling
Bangunan tinggi menjulang
Membuat iri untuk kesana
Terlihat berkabut
Samar
Tapi tetap enak untuk dilihat
Batinku bilang tidak
Tapi ketika kutatap lagi
Terlihat berkabut pula batin ini
Seperti gundukan hijau itu
Berkabut
Samar
Terlihat ada yang menjulang
......
Bawa aku kesana lagi.